Kasih sebagai gaya hidup orang percaya (Roma 12:9)

Kasih sebagai gaya hidup orang percaya (Roma 12:9)

Oleh

Santi

STT Immanuel Nusantara

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata kasih? Banyak orang akan memikirkan tentang suatu hubungan, dan itu benar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kasih adalah perasaan sayang (cinta, atau suka kepada seseorang). Sedangkan menurut Alkitab ada 4 macam kasih yaitu; Kasih yang tidak bersyarat atau kasih ilahi (agape), kasih antara suami/istri atau antara pasangan (eros), kasih dalam keluarga terutama antara anak dan orang tua (storge), dan kasih antara teman atau kasih kepada saudara (phileo).

Kata kasih yang digunakan oleh Paulus dalam ayat ini ialah philostrogos, dari akar kata stroge, yaitu kata Yunani untuk kasih dalam keluarga, karena kita adalah anggota dari satu keluarga. Kita bukan orang-orang asing dalam jemaat, kita juga bukan kelompok-kelompok yang saling mengilosir, kita adalah saudara-saudara, karena kita mempunyai satu Bapa, yaitu Allah. Maka kita harus saling mengasihi dalam kasih persudaraan. Untuk itulah Paulus menerangkan sejelas-jelasnya aspek-aspek sosial dari hidup Kristen. Menganjurkan pengudusan yang berdasarkan perubahan batin, akar segala kebajikan Kristen. Selanjutnya diperlihatkan buah pengudusan itu dengan merendahkan diri dan penuh kasih. Jemaat di Roma itu campuran orang Yahudi dan non-Yahudi atau bangsa-bangsa lainnya, sehingga banyak perbedaan di antara jemaat itu yang mengakibatkan mereka hidup di dalam kasih yang tidak tulus.

Paulus menuliskan surat ini untuk mengingatkan kepada orang-orang Jemaat Roma kasih itu jangan pura-pura. Kasih itu harus tulus, bukan permainan sandiwara, tidak dengan maksud untuk mendapatkan sesuatu sebagai hasilnya. Ada kasih yang bersifat mementingkan diri sendiri, yang tujuannya mendapat lebih banyak dari pada yang diberikan, jadi kasih itu harus benar-benar dari hati demi kepentingan orang lain.

Beranjak dari kehidupan jemaat  Roma, semua orang tentu punya definisi sendiri tentang kasih, tetapi lebih dari itu kasih merupakan sesuatu yang kita lakukan, bukan sesuatu yang kita rasakan. Kasih adalah suatu sikap yang bertanggung jawab. Kasih itu dimulai sebagai suatu sikap menginginkan yang terbaik untuk orang lain. Banyak orang gampang sekali mengatakan kasih tapi hanya sebatas ucapan saja,  sangat sulit untuk melakukannya. Kasih hanya sebagai topeng yang kita pakai untuk terlihat baik, kasih itu gampang dilakukan hanya kepada orang yang kita sayang atau kepada orang kita sukai saja.  Alkitab mengatakan hendaklah kasih itu jangan pura-pura, berarti ada kasih yang pura-pura , ada kasih yang palsu, ada kasih yang tidak tulus, yang tidak iklhas. Lalu untuk apa kasih itu kalau hanya membuat diri kita menjadi munafik? Karena itulah kita perlu mendalami esensi dari kasih itu sendiri, kasih itu adalah Allah ketika kita menyadari kasih yang sudah kita terima dari DIA maka sebagai orang yang sudah merasakan kasih itu seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk sulit melakukan kasih itu kepada orang lain. Kasih Allah memampukan kita untuk menyalurkan kasih itu sesama.

Banyak orang yang membutuhkan kasih, banyak orang yang belum merasakan kasih, banyak orang yang belum paham dengan kasih itu. Sebagai orang percaya yang sudah mengetahui, yang sudah mengerti, dan yang sudah merasakan kasih. Itulah yang menjadi dasar bagi kita untuk melakukannya kepada orang lain, lebih dari itu kasih seharusnya menjadi gaya hidup, sebagai identitas mutlak dalam diri orang percaya. Sehingga ketika orang melihat identitas kita itu orang lain turut merasakan makna dari kasih itu. Kenapa kasih itu harus menjadi gaya hidup orang percaya, karena : Kasih itu suatu sikap yang bertanggung jawab. Kasih itu dimulai sebagai satu sikap menginginkan yang terbaik untuk orang lain. Sikap ini menjadi suatu tindakan. Sikap kita perlu didasarkan pada pengertian yang tepat mengenai siapa Allah dan siapa manusia. Allah adalah sang pencipta tertinggi dan mutlak. Jadi sikap saya kepada-Nya harus baik. Dan manusia dibuat menurut gambar Allah dan merupakan ciptaan-Nya yang khusus. Karena itu saya juga harus memperhatikan sesame manusia dan saya harus memperlakukan seolah-olah dia Tuhan, dalam artian menghormati dan menghargainya sebagai ciptaan Allah. Pengetahuan yang benar akan menuntun kepada sikap yang benar, dan sikap yang benar akan menuntun pada tindakan yang benar.

Oleh karena itu kasih harus diwujudkan dalam tindakan yang aktif bukan pasif.  Kasih kita kepada sesame orang percaya adalah kasih persaudaraan karena kita semua adalah anak-anak Allah. Kasih persaudaraan itu harus dinyatakan dalam kehidupan kita karena :

  • Kasih itu tidak mengharapkan imbalan. Kasih itu bukan hanya sekedar mengasihi, tetapi ada unsur kehangatan atau kesungguhan di dalamnya.
  • Kasih itu tidak egois. Karena kita mengasihi bukan untuk mencari keuntungan sendiri.

Buku Referensi: Alkitab

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Copy Paste, Tuhan Memberkati
WhatsApp Chat disini (Klik)