NATAL MEMBAWA TRANSFORMASI HIDUP

NATAL MEMBAWA TRANSFORMASI HIDUP

oleh: Ev. Eduward Purba, M. Th

Prolog

Kata “transformasi” memang sebuah kata yang trend di dalam dunia teologi. Kata ini juga sangat awam digunakan di dalam pertemuan-pertemuan jemaat seperti di dalam ibadah kebaktian bersifat rutin ataupun dalam pertemuan-pertemuan jemaat lainnya.

Bahasan tentang transformasi, alangkah baiknya lebih dahulu dipahami definisinya agar tidak bias dalam memahaminya kemudian, pada tulisan ini. Transformasi artinya adalah perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya). Penggunaan kata “transformasi” tidak hanya digunakan di dalam dunia teologi, tetapi juga mencakup berbagai disiplin ilmu lainnya sehingga kata ini bukanlah sebuah kata yang masih perlu dipolemikkan lagi.

Indonesia, negara yang merupakan salah satu negera penduduk terbanyak di dunia, sampai saat ini masih melakukan transformasi di dalam berbagai hal. Transformasi yang terjadi di Negara ini harus diawali dari pribadi-pribadi penduduknya di mana umat Kristiani salah satu komunitas di dalamnya. Umat Kristen atau sering disebut sebagai Gereja baik secara pribadi ataupun juga institusional sepantasnya sebagai agen transformasinya Tuhan, sebab Tuhan sendiri sudah mengawali transformasi itu dengan sifat (atribut) ke- Maha Hadiran-Nya yang semua berpuncak pada “Natal”. Dalam hal ini Tuhan sendirilah “Sang Transformator” itu di mana sebuah perubahan kepada pemulihan terjadi semua atas inisiatif dan pekerjaan Tuhan yang dinamis itu. Artinya kehadiran Tuhan di bumi menghasilkan sebuah transformasi atau perubahan yang lebih baik bagi dunia khususnya bagi umat-Nya.

Tuhan Sebagai Transformator

 

Tuhan sebagai transformator bukan tanpa alasan secara teologis jika mencermati dan memahami Alkitab. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sendirilah yang berinisiatif mendatangi manusia berdosa dengan melakukan transformasi akan adanya pemulihan relasi manusia dengan Tuhan dengan nubuatan akan kedatangan Mesias (Juru Selamat) dalam mengalahkan kuasa si jahat (Kej. 3:15). Jika pada awalnya relasi baik manusia dengan Tuhan dirusak manusia dengan ketidaktaatannya kepada Tuhan yang berbuahkan dosa, maka Tuhan melakukan perubahan itu lagi dengan menjalin relasi kembali kepada manusia sekalipun konsekuensi harus terlaksana akibat perbuatan manusia yang merusak relasi Tuhan dan manusia itu tadi.

 

Dalam sejarah-sejarah para Patriakh Perjanjian Lama, para Nabi-nabi dan sejarah bangsa Pilihan, peran Tuhan sebagai transformator sangat kentara sekali. Simpulan awal, kehadiran Tuhan selalu menghasilkan transformasi terbaik-Nya di mana manusia dalam hal ini umat percaya mendapatkan anugerahnya kembali untuk selalu berelasi dengan Tuhan Sang Khalik. Hanya saja tentang transformasi, baiklah dalam bahasan ini penekanannya pada Natal saja sebagaimana sudah disajikan pada bahasan awal sebelumnya.

 

 

 

Natal Pembawa Transformasi Hidup

Natal dipahami sebagai lahirnya Sang Juru Selamat, Tuhan Yesus Kristus di bumi sebagai penggenapan janji Tuhan akan keselamatan. Dalam Natal Tuhan memastikan penggenapan janji-Nya membebaskan umat-Nya dari dosa sebagaimana di dalam Matius 1:21 “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”. Dalam hal inilah Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai Pembaharu Sejati dan prinsip serupa juga dituliskan kembali di dalam Kisah Para Rasul 4: 12 “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Natal sebagai pembawa transformasi juga memastikan bahwa pembaruan “manusia berdosa” hanya dapat dilakukan dan terjadi karena Tuhan satu-satunya yang berkarya di dalamnya. Karya keselamatan itu pun hasil pemberian Tuhan sebagaimana di dalam Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Karya Tuhan dalam transformasi hidup manusia yang percaya kepada Tuhan dinyatakan dengan memberikan Anak Tunggal-Nya (Yoh. 3: 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.) agar ada pembaruan pada umat-Nya yang tadinya menuju kebinasanaan tetapi berubah menuju keselamatan kekal.

Semua karya Tuhan itu karena satu hal yaitu, Tuhan memberikan Firman Yang Hidup itu menjadi “Manusia Sejati” yang membawa pembaruan sejati melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 1:1-3, 14, 29; Mat. 1:22). Sangatlah mustahil seorang manusia biasa membawa pembaruan di dunia yang sangat luas ini dalam relasinya dengan Tuhan. Dan sangat mustahil juga seorang manusia dapat mentransformasi dirinya tanpa Tuhan yang berkarya di dalamnya. Dunia ini sangat  kompleks, rumit, dan pelik dengan berbagai kondisi yang sangat sukar. Bahkan ada yang menuliskan, dunia terlampau kacau untuk ditangani oleh kekuatan sebesar apapun. Namun, semuanya pasti berakhir di dalam Sang Putra Natal, Pendamai sejati (Yohanes 14:6; Yesaya 32:17).

 

Kehadiran Tuhan Yesus dengan memanggil orang berdosa (Mat. 9:13) meneguhkan jaminan dari Tuhan bahwa penyertaan-Nya akan meneguhkan pembaruan sejati berkesinambungan yang menyentuh manusia dan segala bidang kehidupan (Matius 1:23). Artinya Natal mengajak setiap manusia yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai agen perubahan dalam menyatakan kehendak Tuhan di dalam dunia dan perubahan itu harus diawali pada diri sendiri.

 

Transformasi Hidup Seorang Kristen

 

Dengan memahami secara singkat bahwa Natal membawa transformasi hidup baik secara yang bersifat radikal (seketika) maupun progresif (bertahap), yang diperlukan untuk memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Dikutip dari beberapa sumber, kata “transformasi” berasal dari dua kata dasar yaitu trans (kesisi lainnya (across) atau melampaui (beyond)) dan form yang dapat diartikan dengan “bentuk”. Jika didefinisikan dengan bebas maka transformasi berarti perubahan sebagaimana dalam prolog sebelumnya.

 

Hidup di dalam Alkitab khususnya dalam Perjanjian Baru, dituliskan dengan dua kata yaitu bios dan zoe. Kata bios digunakan untuk menunjukkan bentuk kehidupan yang dimiliki setiap orang yang ada di bumi yang dipertahankan dengan makanan, udara, dan air, tetapi pada akhirnya berakhir dengan kematian. Sedangkan kata zoe digunakan untuk menunjukkan kehidupan rohani, yaitu kehidupan kekal yang diberikan Tuhan, di mulai ketika karya Tuhan mentransformasi sesorang menjadi lahir baru. Bios bersifat sementara dan fana, sedangkan zoe bersifat permanen dan kekal. Bios bersifat berpusat pada diri sendiri berdasarkan karya Tuhan, sedangkan zoe berpusat pada Tuhan semata.

 

Jadi jika dibahas tentang transformasi hidup, artinya terjadi perubahan hidup pada diri sesorang. Jika Natal sebagai transformasi hidup seorang percaya, maka kehidupannya harus berubah arah:

  1. Jika awalnya hidup seseorang di alam ini (bios) penuh dengan dosa, maka diperlukan tindakan keputusan untuk menjauhi dan meninggalkan dosa karena Tuhan sudah memperbaharui relasi yang rusak itu. Manusia dimampukan untuk bertobat dan tidak melakukan kekejian di mata Tuhan dan kesempatan itu diberikan Tuhan melalui Tuhan Yesus Kristus.
  2. Jika pada awalnya, akhir hidup manusia menuju kematian kekal (band. Rom.3:11-12), maka Natal membawa harapan baru yang pasti yaitu hidup kekal (zoe/ surga) menjadi tujuan orang percaya.

 

Jadi, Natal membawa transformasi diri seorang percaya ketika berada di dunia ini dan akhir hidupnya. Dengan demikian selama hidup di dunia ini maka seorang Kristen harus menunjukkan perubahan yang mendasar sebagaimana di dalam Roma 12:2. Dalam Roma 12:2 terdapat kata “berubahlah” yang dipakai oleh Rasul Paulus yaitu kata metamorphoo yang berarti perubahan rupa atau bentuk. Perubahan yang harus dilakukan seorang Kristen yaitu Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dalam perubahan itu seorang Kristen tidak boleh menjadi serupa (bahasa Yunani: suschematizo) artinya tidak mengenakan sifat-sifat keduniawian yang merupakan representasi dosa. Ketika orang percaya tidak mengenakan dosa itu pada tubuhnya maka itulah yang disebut dengan transformasi. Transformasi yang diperlukan adalah melepaskan pengenaan dosa pada tubuh menjadi pengenaan perubahan pemikiran yang tentunya itu dikerjakan oleh Roh Kudus (Rom. 8:9; Tit. 3:5).

Jika Natal tahun ini dimaknai sebagai sebuah transformasi hidup, prinsip itu sudah dilaksanakan Tuhan Yesus ribuan tahun yang lalu. Tuhan Yesus mentransformasi umat-Nya agar memperoleh hidup, sebab hanya di dalam Kristus ada kehidupan sebab Dia sendiri adalah hidup itu. Amen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Copy Paste, Tuhan Memberkati
WhatsApp Chat disini (Klik)