CHRISTMAS WITHOUT CHRIST

CHRISTMAS WITHOUT CHRIST

(Sebuah Refleksi Natal oleh Pdt. Yakobus Kristiyono, M.Pd.K)

 

Tema diatas cukup mengelitik jika dicermati secara mendalam, mengingat terasa aneh kedengarannya ditelinga kita “Natal kok tanpa Kritus”. Bukankah Natal sesungguhnya memperingati kelahiran Yesus Kristus sebagaimana dikisahkan dalam Injil dan tradisi gereja dari generasi kegenerasi. Apakah yang dimaksud Natal tanpa Kristus ? Jika dikaitkan dengan perayaan barangkali secara sederharna Natal dapat diartikan peringatan akan kelahiran Kristus tanpa mengedepankan berita Injil Yesus Kristus secara integral dan utuh. Natal diperingati sebatas perayaan tanpa mendalami makna dan menghidupinya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri bahwa berdasarkan fenomena yang berkembang saat ini dan sumber-sumber informasi melalui media Kristen mengindikasikan bahwa perayaan-perayaan Natal yang berkumandang dan menggema di gereja-gereja bersifat rutinitas, ekslusif dan sarat dengan kemewahan yang ditandai dengan maraknya hiburan artis-artis rohani, pagelaran music dan berbagai pernak-pernik di dalamnya. Biaya yang dikeluarkanyapun bervariatif dari ratusan juta hingga mencapai angka milyaran rupiah. Tanpa bermaksud antipati terhadap penyelenggaran Natal di hotel-hotel mewah dan gedung-gedung dengan harga sewa milyaran rupiah. Namun sesungguhnya hal ini sangatlah ironis dengan situasi bangsa kita yang masih mengalami aneka ragam krisis ekonomi-sosial, moralitas dan intoleransi yang telah merembes sampai ke akar rumput (desa-desa) diseluruh dipelosok Nusantara. Dengan demikian perayaan Natal yang hanya memfokuskan pada kemeriahan gema Natal, menunjukkan kemegahan dan kemakmuran gerejanya serta mengabaikan penderitaan sesama adalah wujud dari Natal tanpa Kristus.

 

Peristiwa Natal mestinya menghantar kita mendalami kasih Allah yang dinyatakan kepada manusia dan bagaimana Allah menyatakannya. Oleh sebab itu Natal bukan semata-mata soal bagaimana cara merayakan Natal, tetapi lebih dari itu bagaimana peristiwa Natal yang sudah ribuan tahun yang lalu tetap berlangsung hingga sekarang dengan konteks budaya dan kondisi bangsa kita. Allah membuat karya keselamatan bagi manusia karena kasih-Nya (Yoh 3:16). Manusia yang telah memberontak terhadap Allah seharusnya menerima hukuman kekal, tidak layak untuk dikasihani. Namun Allah justru bersedia hadir dalam hidup manusia bahkan menyelamatkan demi kasih-Nya. Hal ini mestinya menyadarkan kita bahwa betapa berharganya manusia bagi Allah sekaligus hanya Allahlah yang memampukan kita.

 

Bagaimanakah cara Allah menyatakan kasih-Nya ? Berdasarkan Injil Lukas 2:12, Tuhan Sang Juruselamat hadir dalam peristiwa manusiawi. Lahir dari seorang perempuan dan menjadi bayi yang dibungkus dengan lampin. Allah menyatakan kasihNya tidak dengan cara yang tidak dialami manusia, sebaliknya justru melalui cara yang setiap manusia mengalaminya, sehingga menjadi peristiwa manusia. Cara Allah inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi gereja yg merayakan Natal untuk menjadikan Natal sebagai peristiwa kemanusiaan. Kesederhanaan peristiwa Natal ribuan tahun lalu bukankah lebih sesuai dengan konteks bangsa kita sekarang ? Ditengah perekonomian yang sulit dan membanjirnya jeritan kemanusiaan oleh banyak orang dan kesulitan pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang dialami banyak orang. Hal ini menuntut kepekaan hati kita untuk menyadari dan mewujudkan peristiwa Natal menjadi peristiwa kemanusiaan dan sederharna namun karya Allah dinyatakan.

 

Melalui peristiwa Natal ribuan tahun lalu, gereja diingatkan akan kebutuhan hakiki sekaligus kekurangan dan kelemahan pokok manusia masa kini. Hubungan antar manusia makin ditandai dengan kekurangan yang tragis untuk “memperhatikan” dan “diperhatikan”. Sebagai gereja yang bertanggungjawab terhadap pemeliharaan rohani (cura animarum) ditantang untuk lebih sungguh-sungguh menangani ketidakmampuan dan sikap acuh tak acuh manusia untuk “memperhatikan” (caring). Kepedulian lebih dari sekedar berhubungan, menghibur, menunjukkan simpati atau memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi dalam diri orang lain. Caring melibatkan keprihatinan yang meluap menjadi tindakan kasih dan belaskasihan (compassionate).

 

Menurut penelitian dari CITRAS bagi hampir 140.000 penduduk miskin di Jakarta tahun 2008, yang paling peduli terhadap mereka adalah pemerintah. Apakah gereja kemudian menduduki peringkat ke dua setelah pemerintah ? Ternyata tidak, Yayasan Budha Suci menduduki peringkat ke-2 dan kemudian berturut-turut Global Rescue dan WVI. Bagian menarik berdasarkan penelitian tersebut adalah bagi penduduk miskin Jakarta, kasih yang mereka lihat justeru lebih nyata dari yayasan Budha Suci daripada gereja-gereja.

 

Dalam peristiwa Natal, Allah menyatakan diri dalam Yesus dan setelah itu memulai pekerjaanNya didunia dengan memanggil umat-Nya untuk menjadi komunitas yang peduli (caring community). Gereja sudah seharusnya memfokuskan peristiwa Natal dengan bertindak dan berbuat secara nyata kasih kepada sesama. Yesus Kristus mengajarkan kepada umatNya  untuk peduli kepada yang lapar, telanjang, tak punya tempat tinggal, yang dipenjara (Mat. 25:31-46). Maka gereja mula-mula dikenal sebagai gereja (community) yang sangat peduli (caring) sesamanya kepada mereka yang kekurangan dana menderita (Kis. 4:32-37; 2 Kor. 8-9). Gereja di panggil untuk peduli kasih bukan hanya ketika hidupnya berkelebihan dari segi ekonomi, bahkan dalam kekurangan sekalipun  mau berbagi kepedulian dan menjadi berkat bagi sesame umat dan sesama anak bangsa (2 Kor. 8:2-5). Menno Simons (tokoh Mennonite) mengingatkan tugas panggilan komunitas yang Injili sebagai berikut:

“For true evangelical faith is of such a nature that it cannot lay dormant; but manifests itself in all righteousness and works of love; it dies unto flesh and blood; destroys all forbidden lusts and desires; cordially seeks, serves and fears God; clothes the naked; feeds the hungry; consoles the afflicted; shelters the miserable; aids and consoles all the oppressed; returns good for evil; serves those that injure it; prays for those that persecute it; teaches, admonishes and reproves with the Word of the Lord; seeks that which is lost; binds up that which is wounded; heals that which is diseased and saves that which is sound. The persecution, suffering and anxiety which befalls it for the sake of the truth of the Lord, is to it a glorious joy and consolation”.

Dengan demikian Natal adalah peringatan tentang karya pendamaian Allah bagi umat manusia yang ditunjukkan melalui kelahiran Yesus Kristus. Komunitas orang percaya semestinya tidak memahami Natal secara sempit sekedar rutinitas perayaan tahunan dan hanya dikonsumsi oleh komunitasnya sendiri. Pesan Natal seharusnya menyatu dengan umat-Nya, agar dalam hidup berkomunitas dengan masyarakat secara umum kehadirannya memberkati dan kasih Tuhan dinyatakan. Natal tanpa kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan hanya mengutamakan kemeriahan dan kejayaan denominasi gereja masing-masing  adalah Natal tanpa Kristus. Sebab Yesus Kristus adalah Tuhan yang peduli, sederhana, mengutamakan kasih, kebenaran dan keadilan bagi manusia. Maka Natal haruslah kental dengan nuansa nilai-nilai tersebut. Tuhan memberkati.

 

Kepustakaan:

 

Alkitab. Terjemahan Baru New International Version. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007.

 

Browning, W.R.F. Kamus Alkitab: A Dictionary of the Bible. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2007.

 

Henry Matthew, Tafsiran: Injil Matius 1-14. Surabaya: Momentum, 2007.

 

Yoedhiswara, Mikha. A Caring Community. Berita GKMI Majalah Bulanan No. 491 Th. XLI Agustus 2008, hlm. 11-13.

 

Endang, Hana AP. Bedungan Lampin. Berita GKMI Majalah Bulanan No. 495 Th. XLI Desember 2008, hlm. 17-18.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Jangan Copy Paste, Tuhan Memberkati
WhatsApp Chat disini (Klik)